Percaya Diri Belum Tentu Memiliki Efikasi Diri pada Siswa
Penulis: Nabila Aryanti
Di ruang kelas, kita kerap menjumpai siswa yang aktif berbicara dan mudah mengemukakan pendapat. Di sisi lain, ada pula siswa yang terlihat pasif dan cenderung pendiam. Sayangnya, tidak sedikit orang dewasa (termasuk pendidik) yang memandang sikap pendiam ini sebagai sebuah kekurangan. Anak-anak seperti ini sering dibombardir pertanyaan atau kritik, seperti, “Mengapa kamu terlalu diam?”
Padahal, sikap pendiam tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan. Tidak jarang, siswa yang jarang berbicara justru memiliki kemampuan akademik yang memadai dan mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Di sinilah letak kekeliruan yang sering terjadi: menyamakan sikap percaya diri dengan kemampuan belajar siswa. Fenomena ini berkaitan dengan konsep efikasi diri, yang dalam praktiknya kerap disalahartikan sebagai percaya diri, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda.
Perbedaan Percaya Diri dan Efikasi Diri
Secara umum, percaya diri dipahami sebagai keyakinan seseorang terhadap dirinya secara menyeluruh, terutama dalam keberanian tampil dan berinteraksi secara sosial. Kepercayaan diri berperan penting dalam membentuk keberanian siswa untuk berbicara dan mengekspresikan diri di depan umum (Awaliyani & Ummah, 2021).
Berbeda dengan itu, efikasi diri merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas tertentu dan menghadapi tantangan yang dihadapi. Konsep ini menekankan pada keyakinan siswa terhadap proses belajar dan kemampuannya bertahan saat mengalami kesulitan, bukan sekadar keberanian untuk tampil (Bandura, 1997; Arniti et al., 2024).
Penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki pengaruh kuat terhadap kemandirian belajar siswa. Siswa dengan efikasi diri tinggi cenderung lebih tekun, tidak mudah menyerah, dan mampu mengatur proses belajarnya secara mandiri (Patras et al., 2021).
Efikasi Diri dan Percaya Diri: Sama Penting, Wilayah Berbeda
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “mana yang lebih penting bagi siswa, percaya diri atau efikasi diri?” Jawabannya bukan memilih salah satu, melainkan memahami bahwa keduanya sama penting, namun bekerja pada wilayah yang berbeda. Percaya diri berperan besar dalam aspek sosial pembelajaran, seperti keberanian berbicara, tampil, dan berinteraksi. Sementara itu, efikasi diri berperan langsung dalam proses belajar itu sendiri, seperti ketekunan, daya juang, dan kemampuan siswa bertahan saat menghadapi kesulitan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan diri dapat berkontribusi terhadap performa akademik, terutama dalam konteks tugas yang menuntut tampil dan berinteraksi secara terbuka. Meisha dan Al-dabbagh (2021), misalnya, menemukan bahwa kepercayaan diri mahasiswa berkorelasi dengan keberhasilan akademik dan klinis, karena keyakinan tersebut mendorong motivasi dan kesiapan individu dalam menjalani proses belajar.
Namun, efikasi diri memiliki peran yang lebih mendasar dalam keberlangsungan belajar siswa. Efikasi diri menentukan bagaimana siswa memaknai kesulitan, kegagalan, dan tantangan akademik. Siswa dengan efikasi diri tinggi cenderung tidak mudah menyerah, mampu mengatur strategi belajar, dan tetap berusaha meskipun tidak selalu tampil menonjol di kelas. Dalam jangka panjang, efikasi diri inilah yang menjaga konsistensi belajar siswa, bukan sekadar keberanian untuk tampil sesaat.
Dengan demikian, percaya diri dapat diibaratkan sebagai pintu masuk ke ruang kelas sosial, sedangkan efikasi diri adalah bekal untuk bertahan dan berjalan jauh dalam proses belajar. Keduanya saling melengkapi, tetapi tidak dapat dipertukarkan. Ketika sekolah atau guru hanya menilai siswa dari keberanian berbicara, ada risiko besar mengabaikan siswa yang sebenarnya memiliki daya juang dan potensi akademik yang kuat.
Pada akhirnya, tantangan terbesar dalam pendidikan bukan hanya bagaimana meningkatkan rasa percaya diri siswa, tetapi bagaimana pendidik mampu membaca dan memahami keyakinan belajar yang dimiliki setiap anak. Tidak semua siswa perlu tampil untuk menunjukkan kemampuannya. Sebagian siswa bekerja dalam diam, bertahan dalam sunyi, dan berkembang melalui proses yang tidak selalu terlihat di permukaan kelas.
Ketika guru terlalu fokus pada keberanian berbicara, ada risiko mengabaikan siswa yang sebenarnya memiliki efikasi diri kuat. Oleh karena itu, memahami perbedaan antara percaya diri dan efikasi diri bukan sekadar persoalan istilah, melainkan langkah penting agar sekolah menjadi ruang yang adil bagi setiap karakter siswa.
Referensi:
Awaliyani, S. A., & Ummah, A. K. (2021). Upaya meningkatkan kepercayaan diri siswa melalui kegiatan muhadhoroh. Indonesian Journal of Teacher Education, 2(1), 246–252.
Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York, NY: W. H. Freeman.
Meisha, D. E., & Al-dabbagh, R. A. (2021). Self-confidence as a predictor of senior dental student academic success. Journal of Dental Education, 85(9), 1497–1503. https://doi.org/10.1002/jdd.12617
Patras, Y. E., Horiah, S., Zen, D. S., & Hidayat, R. (2021). Pengaruh efikasi diri terhadap kemandirian belajar siswa. Edum Journal, 4(2), 69–75.
Putwain, D., Sander, P., & Larkin, D. (2013). Academic self-efficacy in study-related skills and behaviours: Relations with learning-related emotions and academic success. British Journal of Educational Psychology, 83(4), 633–650.
Penulis:
Nabila Aryanti (NIM 251012700034)
Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Pendidikan, Universitas Pamulang
(Penugasan Mata Kuliah Perilaku Organisasi dalam Pendidikan,
Dosen Pengampu: Dr. Sri Utaminingsih, S.H., S.Pd., M.M.Pd., M.H.)
