April 28, 2026

NEGARA BERKETUHANAN YANG MAHA ESA: FONDASI MORAL DI TENGAH DINAMIKA KEBANGSAAN

0

Nama : YENIRINTISNA ZAI

NIM : 241011550005

Mata Kuliah : Ideologi Negara Pancasila

Dosen Pengampu : Dr. HERDI WISMAN JAYA S.Pd., M.H.

Program Studi : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)

Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

Universitas : Universitas Pamulang

Di tengah derasnya arus perubahan zaman, Indonesia terus dihadapkan pada tantangan kebangsaan yang makin kompleks. Mulai dari polarisasi politik, gesekan identitas, hingga derasnya arus informasi digital yang sering memicu salah paham. Dalam situasi seperti ini, penting untuk kembali menengok fondasi yang sejak awal menyatukan bangsa: sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa

Makna negara berketuhanan bukan sekadar bahwa mayoritas rakyat Indonesia beragama. Lebih jauh, ia adalah pengingat bahwa kehidupan berbangsa membutuhkan pedoman moral yang lebih tinggi daripada kepentingan politik sesaat. Negara yang berketuhanan adalah negara yang menjunjung nilai kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap sesama nilai-nilai yang diwariskan hampir oleh semua agama dan kepercayaan di tanah air.

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, makna ketuhanan acap kali dipersempit menjadi urusan identitas kelompok. Ada kecenderungan sebagian pihak menggunakan agama sebagai alat untuk menyerang pihak lain atau menunjukkan siapa yang “paling benar”. Padahal, sila pertama Pancasila justru dirumuskan untuk merangkul semua pemeluk agama, bukan untuk memisahkan atau mempertentangkan. Ketuhanan Yang Maha Esa seharusnya menjadi perekat, bukan pemecah.

Negara juga punya tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa nilai ketuhanan diterjemahkan ke dalam kebijakan publik yang adil. Artinya, negara tidak boleh memihak pada satu kelompok keagamaan, tetapi juga tidak boleh membiarkan praktik intoleransi berkembang. Pendidikan toleransi, ruang dialog antar iman, serta penegakan hukum terhadap kekerasan berbasis agama adalah bentuk nyata bagaimana sila pertama dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pedoman moral yang bisa menjadi penuntun kita menghadapi dinamika zaman. Di tengah perbedaan suku, agama, dan pandangan politik, nilai ketuhanan mengingatkan bahwa kita semua memiliki martabat yang sama dan tanggung jawab untuk menjaga kehidupan bersama. Jika nilai ini benar-benar dihayati, Indonesia tidak hanya menjadi negara yang besar, tetapi juga negara yang bermartabat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *